Kamis, 22 September 2016

"kadang kita memang butuh menyendiri dalam ruang-ruang sunyi untuk merehatkan tapak kaki dan memantapkan hati.  Tapi setelah itu, jangan lupa untuk bangkit dan bergerak lagi" 
 (^_^)9

Jumat, 02 September 2016

Rai : Kata-Kata dan Suara


Selamat malam Rai, lama tak menyapa mu lewat bebaris aksara. Sejujurnya aku rindu menulis, aku juga rindu berlama-lama dengan kertas dan pena, membiarkan imajinasi, kenangan dan harapan saling berkelindan, membentuk ratusan formasi kata-kata.
Rai, jika kata-kata mampu mewakili perasaan dalam dada, maka aku akan mengatakannya semua, tanpa ada tanda baca yang terlewat begitu saja. Sayangnya lidahku kelu, tubuhku gigil takberdaya, ketika jutaan rasa yang sudah lama bertahta, takjua menemukan ruang yang rindang untuk menarikan pena.
Rai, kertas-kertas puisi ku berkali menelusuri lekuk kisah hidup mu. Jauh membawaku ke masa lampau. Masa dimana kenangan di masa itu menjadi amat berharga. Tentang cerita perjuangan dan perjalanan kita. Tentang mimpi mu yang ku rekam baik-baik. Tentang gigih mu yang ku patri dalam hati, tentang pengorbananmu yang membumi.

Pada lembaran kesekian, jejak pena ku terhenti.
Adalah ia cerita tentang masa depan. Semua masih abuabu. Tak ada yang tahu akan seperti apa kita dimasa itu.
Rai, sudah ratusan atau mungkin ribuan kata-kata singgah di kepala. Tapi tak ada satupun yang mampu teresonasi menjadi suara, melainkan bebaris aksara dalam kertas yang termakan usia.

Mungkin sunyi adalah bahasa yang samasama kita pilih, hingga nanti sampailah kita dipersimpangan, lalu dihadapkan pada sebuah keputusan
; Tetap memilih berada dalam sunyi, atau merayakan lahirnya katakata lewat suara?

--------------
Jakarta, 2 September 2016

Senin, 15 Agustus 2016

kepadamu : perihal hujan

Bagaimana kabarmu?
sudah gelap disini,
senja terhampar pada sisi barat.
pada sebidang tanah yang berujung mendung.

Bagaimana kabarmu?
pepohonan menjuntai nafas hidupnya pada bumi,
bertahtakan langit,
pada sebidang lahan basah yang gelisah

Bagaimana kabarmu?
aku sedang mengeja waktu
melipatnya bersama rindu
mengharap akan temu yang merinai dipelataran langitmu

In a cold and rainy day, there’s not a lot to say, but the things caught in my mind ;
"Time pass away, but memories stay"

------------------
Cileungsi - Jonggol
14 agustus 2016
Hujan dari balik jendela (mobil). Nunggu nasi padang lg dibungkusin.

Senin, 08 Agustus 2016

Pangeran Laut Dan Putri Senja

Pangeran laut,
Ia yang memilih hidup dalam kesepian
Ketika berjuta manusia datang berpasangan
Mengikrarkan janji sehidup semati tuk arungi lautan
Dihadapan ombaknya, naik turun perlahan
Ia tetaplah laut yang sendirian

Putri senja,

Ia yang memilih hidup dalam kesederhanaan
Ketika matahari bersiap kembali ke peraduan
Menghadirkan bias cahaya kemerah-merahan
Jutaan pasang mata menatap hangat senja dihadapan
Ia tersenyum tabah dalam bayang-bayang

Pangeran laut dan putri senja.
Pada penghujung hari ditakdirkan untuk jumpa
Bukan untuk bercengkrama, melainkan hanya saling sapa
Hingga bejana kata penuh dengan rangkai aksara

Pangeran laut dan putri senja.
Tegar memapah rindu di pundak
Sebab jalan terjal didepan semakin menanjak
Pangeran laut dan putri senja.
sabar menunggu saat yang tepat
untuk kembali jumpa,
melebarkan simpul tawa,
melerai rindu yang meletup-letup dalam dada
Kali ini semoga untuk selamanya

Sebab laut dan Senja terlalu indah untuk dinikmati sendiri saja

Pangeran laut dan putri senja,
Itukah kita?



-------------------
Purwokerto, 8 agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

Never Ending Writing


16 nov 2008
Gw kesel sama nyokap, kan gw mau nonton galeri sepakbola indonesia malah dmarahin dan disuruh ganti. Padahal gw udah nunggu acara itu dari seminggu lalu. Ah benci benci
3-4 januari 2009
Hari ini gw ikut tafakur alam rohis sma ke curug naga. Keren bgt. Dingin. Ada game sama susurin sungai, lompat dari tebing, sampe diujung liat air terjun...pas lagi di outbond di sungai,si ningsih pegangan sm gw. Lah gw kan jadi mau kelelep.
12 maret 2009
Di sekolah ada razia, komiknya si x kena, hp nya pada diambil. Untung gw engga..
19 mei 2009
Reza ngejatohin angklung ke kepala gw, sakit bangeet. Bukannya minta maaf malah ngeledekin

*Tulisan dari buku diary lama, ditulis dengan segenap ke alay an dan ke galau an anak baru masuk SMA.
--------------
Aku mulai menulis sejak kelas 4 SD, berdua dengan sahabat baikku, kita patungan beli buku tulis Sidu yang tipis lalu bergantian menulis di buku itu, nulis cerpen berbagai genre, ada komedi, persahabatan, horor, tapi gak kepikiran genre romance, haha maklum masih anak SD. Terkadang kita nulis cerita bersambung, aku nulis satu halaman, dia nulis satu halaman melanjutkan cerita yang aku buat, tanpa pernah ngasih tau alur nya seperti apa. Pernah juga isinya curhat kekesalan aku sama sikap dia, dan juga sebaliknya. Setiap hari buku itu berpindah tangan dan nginep di rumah kita berdua. Kalo sudah habis, kita beli buku baru dan buku yang lama disimpan bergantian.

Sejak SD juga aku terbiasa nulis buku diary, ada belasan buku yang udah aku tulis, tapi yang terselamatkan hanya beberapa, karena dulu sering pindah-pindah rumah jadi buku-buku itu berceceran entah kemana. Menulis diary, membuat hidup jadi berasa lebih hidup. Dimanapun aku bisa menuliskannya, di kelas, forum rapat, mabit, bahkan di kereta pun aku pernah menulis diary.

Tahun 2011 mulai bikin blog awalnya masih bingung harus nulis apa. Aku yang notabene introvert, susah untuk cerita di tempat umum tapi akhirnya mulai terbiasa dan merasa kalo blog ini adalah ruang aktualisasi yang menyenangkan. Bisa ubah-ubah templete blog yang lucu-lucu, bisa tambahin musik, video dan gambar.

Dan sekarang aku punya 4 akun : blog, fb, twitter dan instagram dengan segmennya masing-masing. Meski yang dua terakhir udah berdebu jarang aku buka. Hmm.. lalu kenapa aku punya banyak akun? Karena aku yang interovert, jadi punya segmen tulisan untuk masing-masing akun tersebut. Ahaha.. kadang aku kasihan aja sama pembaca yang membaca tulisan geje-ku. Karena apapun yang kita katakan pasti dipertanggung jawabkan kelak, karenanya banyak filter yang harus diterapkan. Minimal jangan sampai menebar aura negatif kepada pembaca.

Well, Menulis bagiku adalah sebuah kebutuhan, dengannya aku bisa mengurai masalah dan sekaligus menemukan solusi yang mungkin saja tersembunyi andai nggak segera diurai. Ketika tiba-tiba aku sadar makin jarang menulis, maka ternyata aku sedang tidak mau mengurai banyak hal.

Jujur Betapa menyenangkannya bisa menulis, meluapkan berbagai emosi yang takbisa terkatakan.
Betapa menyenangkannya bisa membaca tulisan itu lagi bertahun kemudian, mengenang segala kejenakaan dimasa –masa yang penuh kenangan.
Sejatinya seorang muslim ialah dia yang selalu optimis menatap masa depan dan hanya sesekali menatap masa lalu sebagai tanda agar tak salah arah dalam perjalanan.

Ah, semoga saja apa yang kutuliskan ada hikmahnya, meski ia tersembunyi, terserak, tapi semoga masih bisa ditemukan.

----------------------------
Purwokerto, 4 Agustus 2016

Minggu, 10 Juli 2016

Rai : pertanyaan



rai : Apa pendapatmu tentang kenyamanan?
sora : Kenyamanan itu melenakan. Aku lebih suka perjuangan, melelahkan dan membahagiakan dalam waktu bersamaan. 


rai : Mana yang kamu pilih, payung yang meneduhkan atau yg menghangatkan?
sora : Tidak keduanya, lebih baik aku hujan-hujanan.


rai : Apakah kamu suka menunggu?
sora : Menunggu (si)apa? Kalau menunggu mulainya pertandingan bola, tak masalah.


rai : Pernahkah kamu ingin menghapus masa lalu?
sora : Pernah, tapi tidak jadi. Karena ternyata semua hal dimasa lalu sangat berharga buatku.


rai :Apa makna persahabatan menurutmu?
sora : Seperti pelangi, butuh semua warna untuk terlihat indah. saling melengkapi.


---------------
rumah, 10 juli 2016

Minggu, 03 Juli 2016

benang dan layang-layang

“Layang-layang mampu terbang tinggi jika didukung oleh benang yang berkualitas baik. Jika tidak, bisa putus layang-layang terbawa angin entah kemana. Layang-layang membutuhkan benang untuk dia dapat terbang, tanpa benang dia hanya akan terserak diatas tanah dan menjadi sampah.

Benang berkualitas tentu saja berharga lebih mahal dari benang biasa, tak kan kalah meski diadu dengan benang yang lain. Tak kan bisa benang lain memutuskannya. Layang-layang dan benang adalah sepasang jodoh yang darisana telah ditakdirkan berpasangan.

Tapi ada juga layang-layang yang hanya mampu terbang rendah, benangnya tak cukup bagus untuk menahannya terbang lebih tinggi. Ada pula layang-layang yang kemudian putus, tak mampu benang menahan layang-layang itu untuk tetap terikat, kalah oleh kuatnya angin.

Ada juga yang bermain adu layangan, saling bergesekan benang dan lagi-lagi salah satunya putus, bercerailah antara benang dan layang-layang. Layang-layang yang kalah tak akan lagi berharga, benang yang kalah tak akan lagi dipakai. Disimpan, menjadi usang, atau dibuang.

Namun, ada pula layang-layang yang mampu terbang tinggi, setinggi-tingginya dan benang mampu menjaganya terbang dengan tenang. Begitu gagahnya dan layang-layang dipuji akan ketinggiannya, tapi siapa yang lupa, aku atau kamu, layang-layang dapat setinggi itu tentu dijalin oleh benang yang sangat bagus, aku penasaran padanya. Benang seperti apakah gerangan yang digunakan untuk layang-layangnya.”

Ibu menghentikan ceritanya.

“Kau tahu puteriku sayang, laki-laki adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan menjadi apa-apa. Dibalik ketinggian (kesuksesan) laki-laki, ada kita dibaliknya. Puteriku, jadilah benang yang berkualitas terbaik, buatlah layang-layangmu kelak terbang setinggi-tingginya, karena setinggi apapun dia terbang, dia selalu terikat olehmu dan akan bergantung denganmu. Jagalah dia agar dia tidak putus dan hilang arah, ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi”

Ibu tersenyum. Aku mengangguk. Aku berjanji akan menjadi sebaik-baiknya benang untuk layang-layangku.

------------------
ditulis oleh : Kurniawan Gunadi