Kamis, 25 Agustus 2016

Ketika Jobfair

ketika jobfair, aku berencana berangkat dengan seorang teman, tapi akhirnya kita berangkat sendiri-sendiri, dia dari depok, aku dari bekasi

ketika jobfair, aku naik busway sampai bunderan HI, lalu transit dan naik busway lagi sampe halte GBK. temanku itu naik Commuter line dari stasiun pondok cina lalu dilanjut busway pula

ketika jobfair, dari halte aku berjalan sendirian menuju istora tempat dilaksanakannya acara, sudah familiar sebab tkp nya sama dengan tempat ibf tiap tahunnya. kulihat manusia-manusia pencari kerja datang bergerombol dengan teman sebaya, memegang map, berdasi, rok span dan berkemeja.
aku datang sendirian dengan pakaian biasa saja, berjalan perlahan sembari menunggu kedatangan teman kampus dulu, namanya tia.

ketika jobfair, di tengah perjalanan menuju istora ada seseorang dari belakang menghentikan langkahku karena mengucap salam dan mengulurkan tangannya. mengajak berkenalan dan meminta agar bisa pergi bersama. ku pikir tak mengapa, ia perempuan dengan kerudung gaul yang dililitkan ke kepala dengan senyum lebar membuat siapapun nyaman didekatnya.

ketika jobfair, mendekati pintu masuk ia meminta ku menunggu sejenak untuk membeli air minum dari pedagang dan ia mengambil dua, lalu menyerahkan satu botol padaku sembari mengingatkan bahwa nanti akan sangat lelah karena berkeliling mencari stand perusahaan yang diinginkan. aku menolak, dan ia memaksaku menerima

ketika jobfair, baru ku ingat uang di dompet ternyata tak seberapa, tak cukup untuk membayar tiket masuk seharga lima puluh ribu dikurangi selembar sultan mahmud badaruddin dua. setelah aku tanya, ia berbaik hari menunjukkan letak atm terdekat, bahkan ikut mengantarkanku pula. ah ternyata letaknya lebih jauh dari pagar tempat awal mula kita berjumpa. berkali ku katakan maaf dan takperlu ikut kesana, ia bilang tak apa-apa

ketika jobfair, menuju pintu masuk antrian sangat padat dengan sistem buka tutup pintu masuk. ia yang sigap menarik tanganku untuk mendekat dan mengajak ngobrol sembari menunggu tia. taklama tia datang dan percaya atau tidak, aku hanya beberapa menit saling sapa dengannya, setelah itu, sampai pulang aku tak bertemu lagi sama tia. haha 

ketika jobfair, padatnya manusia pencari kerja membuat udara sekitaran terasa sesak bahkan ada yang jatuh pingsan. aku kewalahan bahkan sekedar untuk mengambil berkas dan meletakkan nya di stand saja. perempuan itu berulang kali membantuku menyelinap dan menyediakan ruang untuk menulis tujuan berkas, pernah satu kali aku lihat dia berdiri di depan meja stand ditengah padatnya manusia laki-laki dan perempuan, sekedar untuk membantu perempuan- perempuan yang berdiri cukup jauh untuk meletakkan berkasnya. dan ia tersenyum setelah itu, tak ada raut kepayahan di wajahnya.

ketika jobfair, aku menemani nya menuju mushola untuk shalat dzuhur, menjaga tasnya dan setelah shalat ia baru sadar kalau cap masuk ditangannya sudah luntur terkena air wudhu. kami putuskan untuk pulang saja, sebab lelah memang sedari tadi mendera.

ketika jobfair, beranjak meninggalkan mushola ia mengentikan langkahnya dan memintaku menunggu sejenak. aku memilih berdiri di dekat penjual es dan menunggunya. tak lama ia kembali dengan dua box stereofom yang ku tahu isinya adalah siomay. kemudian ia menarik tanganku dan mengajak duduk di pinggir jalan keluar sebab semua meja telah terisi, lantas menyerahkan box makanan itu padaku. berulang kali ku tolak ia terus memaksa sampai akhirnya aku luluh dan menerima pemberiannya (lagi) 

ketika jobfair, selepas makan, langit sudah gelap pertanda hujan sebentar lagi bertandang. aku mengajaknya bergegas. ia segera berdiri dan mengeluarkan sebuah payung kecil berwarna hijau muda. "buat kamu nih kalo ujan" . lagi - lagi ku tolak pemberiannya dengan alasan ia lebih membutuhkan payung itu. tapi ia bersikeras dengan banyak alasan agar aku mau menerima, ia pun memperlihatkan pula sebuah payung berwarna abu-abu tua. "tenang aku bawa duaa" katanya sambil tersenyum lebar. lagi-lagi aku tak bisa berkata apa-apa selain ucapan terimakasih yang terus keluar dari awal perjumpaan kita.
ku tanyakan mengapa ia membawa dua payung, bukankah tasnya akan terasa berat?
katanya ia sengaja, jaga-jaga kalau hujan datang dan teman perjalanan nya tak membawa payung di dalam tasnya.
aku geleng-geleng kepala

ketika jobfair, menuju halte busway ia sempat bingung ingin naik busway atau kopaja. semua ada enak dan tidaknya. kemudian ia memutuskan naik busway bersamaku. ketika tap in, kartu bca flazz ku tidak bisa tap in, walau sudah dicoba berulang kali. padahal kartu itu baru aku beli dengan nominal saldo masih sekitar 25 ribu rupiah. dengan sigap ia menempelkan kartu nya dan membuat pintu terbuka sehingga aku juga bisa masuk ke area tunggu busway.

ketika jobfair, di bis menjelang ia turun, ia mengucapkan banyak terimaksih padaku, karena sudah mau menemani, karena sudah mau berbagi cerita, karena sudah banyak tertawa bersama. terbalik. harusnya aku yang berterimaksih padanya atas segala kebaikan yang mengalir dari nya.
entah kenapa kita seperti sahabat lama yang baru kembali jumpa. akrab, dan dekat hanya dalam waktu yang begitu singkat.

ketika jobfair, aku turun dari bus terlebih dahulu, sempat meminta nomer hp nya dengan alasan agar mudah mengembalikan payung, kami bersalaman dan itu lah terakhir aku bertemu dia.
di rumah aku menghubungi nomer hp yang ia berikan, namun ternyata sampai sekarang tak pernah ada balasan.

biarlah, ia dengan segala kebaikannya seperti seseorang yang Allah kirim untuk menemani satu episode perjalananku, dan menjadi contoh seorang agen muslim yang baik.
"muslim yang terbaik adalah muslim yang paling bermanfaat bagi orang lain"

dia, kenalkan namanya dita.

-------------------
sepulang jobfair, 16 Agustus 2016

Setelah Lulus..

Menurut ku, Masa-masa setelah lulus adalah masa transisi. Terutama bagi mahasiswa perantauan, yang letak kota asal dan kota tempat kuliahnya berjarak cukup jauh. Masa transisi itu, adalah dimana kita lepas dari lingkar pertemanan semasa kuliah, lalu mulai membangun lingkar pertemanan baru. Aku pun mengalami masa transisi itu, pulang dari perantauan seperti orang baru di lingkungan rumah. Teman-teman semasa kecil sudah melanglang buana ke penjuru kota, bahkan penjuru dunia. Teman-teman semasa dikampus sudah punya kesibukan masing-masing di tempat baru nya. Jadilah si manusia ini mengalami culture gap. Intinya yang lama udah ga ada, yang baru belum ketemu haha.

Baiklah, untuk menyiasati itu, ada baiknya dimulai dari lingkaran majlis ilmu. Yap. Hal pertama yang aku lakukan adalah meminta dicarikan kelompok melingkar, sebab (mantan) mahasiswa yang baru mutasi bisa dipastikan ruhiyah nya pun termutasi menjadi semacam gen yang mengubah manusia normal menjadi zombie ringkih. Jadi memulai dengan melangkahkan kaki menuju lingkaran cinta adalah urgent untuk dilakukan, sebab pada masa-masa transisi itu lah syetan senang sekali menggoda untuk membisikkan agar sudahi saja segala yang ada di antara kita proses pembinaan diri. 

Selanjutnya, adalah mencari kesibukan baru. Hanya ada 2 cara dalam memanfaatkan waktu luang, diisi dengan banyak kebaikan atau justru sebaliknya, diisi dengan kemaksiatan.
Rugi kalo waktu luang Cuma diisi dengan santai-santai, leyeh-leyeh di rumah. Rugi kalo waktu pagi dilewatkan untuk menarik selimut dalam-dalam. Malu sama ayam yang sebelum subuh pun sudah berkokok dan mencari sumber penghidupan, malu sama abang angkot,gojek,grab dan sebagainya yang dini hari udah stay dijalanan buat nyari penumpang, malu sama tukang roti, tukang nasi uduk, dan tukang bubur ayam yang sedari pagi sudah menjajakan barang dagangan. duhduhduh..

Dulu di awal kelulusan, ada banyak tawaran untuk stay di kota rantau, melanjutkan ritme dakwah disana, sampai ‘diimingi’ dicarikan pendamping hidup orang sana haha. Tapi azzamku sudah kuat waktu itu. aku ingin pindah. Hijrah lagi. Seperti awal dulu aku hijrah ke kota rantau dengan niat untuk menjadi akhwat shalihah sepulangnya (mungkin akan ku ceritakan di bagian tersendiri). Kali ini aku ingin hijrah lagi dengan azzam ingin berkarya di kota asal. Masa sih hampir dua puluh tahun di kota asal, tapi gak ngasih kontribusi apapun.

Hari-hari pertama balik ke kota asal memang lebih banyak ku habiskan untuk jalan-jalan, silaturahim keliling, nonton bioskop, wisata kuliner, reuni temen smp dan sma, mau naik gunung tapi gak ada temennya (sediih) haha. Sekedar melupakan payah dan getirnya merampungkan tugas akhir. Semacam hadiah kecil atas kelulusanku haha. Tapi gak lama, Allah mengingatkan sudah cukup santainya, sekarang saatnya berkarya seperti janji mu dulu. Benar saja, ummi menawarkan untuk ngajar mentoring karna sedang kekurangan tentor. Ngajar? Iyaa ngajar, berdiri di depan kelas salah satu smp negeri, di depan papan tulis dan meja guru. Kalo kamu tanya kok bisa? Ya bisa, alhamdulillah sikap kooperatif pihak sekolah memungkinkan “orang luar” bisa masuk untuk ngajar mentoring. Gak lama setelah itu, datang lagi ajakan untuk ‘ngisi’ mentoring di sma swasta. Dan berturut setelahnya diminta untuk pegang 2 kelompok lingkaran cinta. Bukan maksud ingin berbangga atau riya, sungguh. Hanya ingin berbagi bahwa Allah benar-benar mencatat setiap niat yang terbersit di dada hambanya. Meski tidak terucap, Allah sangat tau. Dan jika niat itu baik, Allah akan memudahkan jalannya, seperti air yang keluar dari keran, jalan-jalan kebaikan itu mengalir dengan derasnya. Mudah saja bagi Allah bukan?

Yang ketiga adalah mencari kerja.
Tiga hal yang menjadi tujuan bagi mahasiswa baru lulus adalah menikah, mencari kerja, atau melanjutkan kuliah. Bagiku, bulan-bulan ini ingin punya maisyah dulu haha. Akhirnya dimulai lah pertarunganku dengan jutaan pencari kerja lainnya. Apply sana sini dan ikut jobfair (mungkin akan ku ceritakan di bagian tersendiri) semua dijalani. Namanya usaha ya semua dicoba, entah mana yang akan lolos, itu urusan Allah. Lagi-lagi ikhtiar dan tawakkal di maksimalin banget. Waktu itu sempat diundang psikotes di PT. “cintai ususmu, minum ini tiap hari~” dari hampir 500 yang apply di situs pencari kerja online, hanya 16 yang terpilih untuk psikotes, dan hanya 6 orang yang hadir psikotes. Ngerjain soal super banyak dari jam 9 sampe jam 1 siang non stop. Dilanjut jam 2 pengumuman. Kalo secara logika pasti mikirnya “wah saingan gue dikit nih, peluang masuk pasti besar”. Ternyata takdir Allah berkata lain, semua yang tes gak ada yang lolos buat interview. Bingung kan? Mungkin standar perusahaan tinggi banget sampe-sampe gak ada yang lolos gitu~ Peserta yang lain pada ngedumel di toilet putri taklama setelah pengumuman. Kalau aku sih biasa aja, senyum-senyum di depan kaca. aku anggep ini sebagai pengalaman paling berharga yang hanya bisa didapat segelintir orang saja. Kapan lagi coba, bisa masuk ke gedung bertingkat itu, liat karyawan dan proses kerja disana, ikut merasakan atmosfer kantoran juga. 

Setelah itu, hidupku berjalan normal seperti biasa haha. Well, Tiga hal tadi : mencari kelompok lingkaran cinta, mencari kesibukan, dan mencari kerja adalah tiga hal urgent versi ku. Tentu setiap orang punya targetan dan rencana yang berbeda, tapi semoga bisa memberikan sedikit gambaran tentang apa-apa yang harus kamu persiapkan setelah lulus. 
Yuk Persiapkan dan rencanakan kehidupan pasca kampus ideal versi kamu seperti apa, segera! sebelum kamu goyah dan terbuai oleh indahnya dunia yang berkilau diluar tembok dan jeruji kampus kamu saat ini :)

#soktua
#sokasik
#biariiiiin :p
------------------------
Bekasi, 25 Agustus 2016

Senin, 15 Agustus 2016

kepadamu : perihal hujan

Bagaimana kabarmu?
sudah gelap disini,
senja terhampar pada sisi barat.
pada sebidang tanah yang berujung mendung.

Bagaimana kabarmu?
pepohonan menjuntai nafas hidupnya pada bumi,
bertahtakan langit,
pada sebidang lahan basah yang gelisah

Bagaimana kabarmu?
aku sedang mengeja waktu
melipatnya bersama rindu
mengharap akan temu yang merinai dipelataran langitmu

In a cold and rainy day, there’s not a lot to say, but the things caught in my mind ;
"Time pass away, but memories stay"

------------------
Cileungsi - Jonggol
14 agustus 2016
Hujan dari balik jendela (mobil). Nunggu nasi padang lg dibungkusin.

Kamis, 04 Agustus 2016

Never Ending Writing

16 nov 2008
Gw kesel sama nyokap, kan gw mau nonton galeri sepakbola indonesia malah dmarahin dan disuruh ganti. Padahal gw udah nunggu acara itu dari seminggu lalu. Ah benci benci
3-4 januari 2009
Hari ini gw ikut tafakur alam rohis sma ke curug naga. Keren bgt. Dingin. Ada game sama susurin sungai, lompat dari tebing, sampe diujung liat air terjun...pas lagi di outbond di sungai,si ningsih pegangan sm gw. Lah gw kan jadi mau kelelep.
12 maret 2009
Di sekolah ada razia, komiknya si x kena, hp nya pada diambil. Untung gw engga..
19 mei 2009
Reza ngejatohin angklung ke kepala gw, sakit bangeet. Bukannya minta maaf malah ngeledekin

*Tulisan dari buku diary lama, ditulis dengan segenap ke alay an dan ke galau an anak baru masuk SMA.
--------------
Aku mulai menulis sejak kelas 4 SD, berdua dengan sahabat baikku, kita patungan beli buku tulis Sidu yang tipis lalu bergantian menulis di buku itu, nulis cerpen berbagai genre, ada komedi, persahabatan, horor, tapi gak kepikiran genre romance, haha maklum masih anak SD. Terkadang kita nulis cerita bersambung, aku nulis satu halaman, dia nulis satu halaman melanjutkan cerita yang aku buat, tanpa pernah ngasih tau alur nya seperti apa. Pernah juga isinya curhat kekesalan aku sama sikap dia, dan juga sebaliknya. Setiap hari buku itu berpindah tangan dan nginep di rumah kita berdua. Kalo sudah habis, kita beli buku baru dan buku yang lama disimpan bergantian.

Sejak SD juga aku terbiasa nulis buku diary, ada belasan buku yang udah aku tulis, tapi yang terselamatkan hanya beberapa, karena dulu sering pindah-pindah rumah jadi buku-buku itu berceceran entah kemana. Menulis diary, membuat hidup jadi berasa lebih hidup. Dimanapun aku bisa menuliskannya, di kelas, forum rapat, mabit, bahkan di kereta pun aku pernah menulis diary.

Tahun 2011 mulai bikin blog awalnya masih bingung harus nulis apa. Aku yang notabene introvert, susah untuk cerita di tempat umum tapi akhirnya mulai terbiasa dan merasa kalo blog ini adalah ruang aktualisasi yang menyenangkan. Bisa ubah-ubah templete blog yang lucu-lucu, bisa tambahin musik, video dan gambar.

Dan sekarang aku punya 4 akun : blog, fb, twitter dan instagram dengan segmennya masing-masing. Meski yang dua terakhir udah berdebu jarang aku buka. Hmm.. lalu kenapa aku punya banyak akun? Karena aku yang interovert, jadi punya segmen tulisan untuk masing-masing akun tersebut. Ahaha.. kadang aku kasihan aja sama pembaca yang membaca tulisan geje-ku. Karena apapun yang kita katakan pasti dipertanggung jawabkan kelak, karenanya banyak filter yang harus diterapkan. Minimal jangan sampai menebar aura negatif kepada pembaca.

Well, Menulis bagiku adalah sebuah kebutuhan, dengannya aku bisa mengurai masalah dan sekaligus menemukan solusi yang mungkin saja tersembunyi andai nggak segera diurai. Ketika tiba-tiba aku sadar makin jarang menulis, maka ternyata aku sedang tidak mau mengurai banyak hal.

Jujur Betapa menyenangkannya bisa menulis, meluapkan berbagai emosi yang takbisa terkatakan.
Betapa menyenangkannya bisa membaca tulisan itu lagi bertahun kemudian, mengenang segala kejenakaan dimasa –masa yang penuh kenangan.
Sejatinya seorang muslim ialah dia yang selalu optimis menatap masa depan dan hanya sesekali menatap masa lalu sebagai tanda agar tak salah arah dalam perjalanan.

Ah, semoga saja apa yang kutuliskan ada hikmahnya, meski ia tersembunyi, terserak, tapi semoga masih bisa ditemukan.

----------------------------
Purwokerto, 4 Agustus 2016

Minggu, 10 Juli 2016

Rai : pertanyaan



rai : Apa pendapatmu tentang kenyamanan?
sora : Kenyamanan itu melenakan. Aku lebih suka perjuangan, melelahkan dan membahagiakan dalam waktu bersamaan. 


rai : Mana yang kamu pilih, payung yang meneduhkan atau yg menghangatkan?
sora : Tidak keduanya, lebih baik aku hujan-hujanan.


rai : Apakah kamu suka menunggu?
sora : Menunggu (si)apa? Kalau menunggu mulainya pertandingan bola, tak masalah.


rai : Pernahkah kamu ingin menghapus masa lalu?
sora : Pernah, tapi tidak jadi. Karena ternyata semua hal dimasa lalu sangat berharga buatku.


rai :Apa makna persahabatan menurutmu?
sora : Seperti pelangi, butuh semua warna untuk terlihat indah. saling melengkapi.


---------------
rumah, 10 juli 2016

Minggu, 03 Juli 2016

benang dan layang-layang

“Layang-layang mampu terbang tinggi jika didukung oleh benang yang berkualitas baik. Jika tidak, bisa putus layang-layang terbawa angin entah kemana. Layang-layang membutuhkan benang untuk dia dapat terbang, tanpa benang dia hanya akan terserak diatas tanah dan menjadi sampah.

Benang berkualitas tentu saja berharga lebih mahal dari benang biasa, tak kan kalah meski diadu dengan benang yang lain. Tak kan bisa benang lain memutuskannya. Layang-layang dan benang adalah sepasang jodoh yang darisana telah ditakdirkan berpasangan.

Tapi ada juga layang-layang yang hanya mampu terbang rendah, benangnya tak cukup bagus untuk menahannya terbang lebih tinggi. Ada pula layang-layang yang kemudian putus, tak mampu benang menahan layang-layang itu untuk tetap terikat, kalah oleh kuatnya angin.

Ada juga yang bermain adu layangan, saling bergesekan benang dan lagi-lagi salah satunya putus, bercerailah antara benang dan layang-layang. Layang-layang yang kalah tak akan lagi berharga, benang yang kalah tak akan lagi dipakai. Disimpan, menjadi usang, atau dibuang.

Namun, ada pula layang-layang yang mampu terbang tinggi, setinggi-tingginya dan benang mampu menjaganya terbang dengan tenang. Begitu gagahnya dan layang-layang dipuji akan ketinggiannya, tapi siapa yang lupa, aku atau kamu, layang-layang dapat setinggi itu tentu dijalin oleh benang yang sangat bagus, aku penasaran padanya. Benang seperti apakah gerangan yang digunakan untuk layang-layangnya.”

Ibu menghentikan ceritanya.

“Kau tahu puteriku sayang, laki-laki adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan menjadi apa-apa. Dibalik ketinggian (kesuksesan) laki-laki, ada kita dibaliknya. Puteriku, jadilah benang yang berkualitas terbaik, buatlah layang-layangmu kelak terbang setinggi-tingginya, karena setinggi apapun dia terbang, dia selalu terikat olehmu dan akan bergantung denganmu. Jagalah dia agar dia tidak putus dan hilang arah, ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi”

Ibu tersenyum. Aku mengangguk. Aku berjanji akan menjadi sebaik-baiknya benang untuk layang-layangku.

------------------
ditulis oleh : Kurniawan Gunadi 

Jalan Allah

"Jalan Allah amatlah panjang, untunglah kita tidak diperintahkan untuk harus sampai ke ujungnya. Tugas kita hanyalah mati diatasnya” 
(Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

"Dan akhirnya, semua orang akan menuju Allah setelah matinya, tetapi berbahagialah orang yang telah menuju Allah sejak masih dalam hidupnya” 
(Sayyid Quthb dalam Ma’alim Fith Thariq)

"Jika kau telah berada di jalan Allah, melestlah kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski langkahmu kecil berselang. Bila engkau lelah, maka berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu takmampu kau lakukan, tetaplah maju meski harus merangkak nyalang, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang” 
(Imam Asy-Syafi’i)

Sungguh, di jalan Allah betapa beratnya beriman. Betapa lelahnya berislam. Betapa susahnya berihsan. maka ada yang harus tetap tinggal dalam relung terdalam ; ialah keistiqomahan.

Allah, bantu kami untuk terus istiqomah dalam jalan-Mu, dalam pendar cahaya-Mu :')

#pascakampus #keluarzonanyaman #reallife #istiqomahyaa  
----------------
Bekasi, 3 Juli 2016