Di kota yang gemerlap ini, amat terasa beratnya menjaga iffah, izzah dan idealisme yang sedari dulu kudekap erat.
Sayang nya, seringkali mereka -lelaki- yang datang sekedar memanggil-manggil nama, mengajak bercanda atau menggoda adalah orang-orang yang paham agama, yang ku yakini betul selalu menjaga lingkaran kecil mereka.
Jika mereka hanyalah laki-laki biasa, tentu aku mafhum, dan bersikap biasa menghadapinya.
Sayangnya, mereka yang (harusnya) ku kenal sbg orang yang tawadhu, pandai menjaga lisan dan akhlaq, justru kalah dengan dua pria bule yang tadi sore berpapasan denganku di jalan kompleks perumahan, yang tersenyum ramah menyapa, "sore" dan aku pun membalas sapaannya dengan baik pula. Setelah itu, selesai. Tak ada basa basi yang menyertainya.
Ada ketakutan yang hinggap dan selalu menghantui hari hari disana. Jam delapan pagi sampai lima sore, ber titel anak magang, apa lagi yang bisa kulakukan selain mengharap padaNya?
Agar selalu istiqomah menjaga ketaatan padaNya.
Agar tak tunduk pada nafsu dunia.
Agar punya tekad sekeras baja, dan hati seluas samudera.
Untuk menjagaku agar kokoh, tak goyah.
Untuk mengajariku menyediakan ruang penerimaan yang lapang
"Aku hanya ingin menjadi diriku yang selalu terjaga diantara duri-duri. Seperti mawar : Indah, namun taksemua orang mampu memetiknya."
--------------------
Pulang kerja~
Agar selalu istiqomah menjaga ketaatan padaNya.
Agar tak tunduk pada nafsu dunia.
Agar punya tekad sekeras baja, dan hati seluas samudera.
Untuk menjagaku agar kokoh, tak goyah.
Untuk mengajariku menyediakan ruang penerimaan yang lapang
"Aku hanya ingin menjadi diriku yang selalu terjaga diantara duri-duri. Seperti mawar : Indah, namun taksemua orang mampu memetiknya."
--------------------
Pulang kerja~