Kamis, 25 September 2014

Mimosa Pudica

Seperti daun mimosa pudica yang menguncup kala ada sentuhan pada bilur-bilur nya, akupun mengerdil disini, ditempat persembunyian yang tak seorangpun tahu. Entah sudah lembar keberapa jemariku menari pada tuts keyboard ini, ia memandangku dengan jengah. Aku tak peduli.

Pada titik nadhir yang paling dalam, pada cekungan jurang yang paling curam, aku menjatuhkan diri. Cadas-cadas tebing melirik angkuh, bebatuan yang lemah dan ikut jatuh kala kupijak pun ikut tersenyum sinis. Aku tak peduli.

Disini. Pada sudut tergelap yang pernah kutemui, aku mencoba berbicara kepada hati. Mengapa ia melukai dirinya sendiri? Menghujamkan ribuan tanda tanya yang tak pernah sampai, hingga menguap dan terlupa seakan tak pernah ada. Menusukkan sebilah kata yang tak pernah terucap, hingga berserakan dan tercecer begitu saja.

Ia diam saja.

Aku terpekur.
lama..
Kembali terngiang prosa yang tertulis di catatanku “pulanglah kepada aksara yang tertulis dalam kidung –kidung do’a, pulanglah kepada senja yang membawamu mengingat tiap karuniaNYA”

Sekejap kemudian, sebuah kesadaran baru menghampiri.
tetiba Terngiang kembali  kata-kata rai padaku suatu senja

“ka
mu tau mimosa pudica kan? kamu tuh mirip seperti tumbuhan itu. pemalu. Disentuh sedikit langsung menutup diri. eh Tapi ingat ya, mimosa pudica selalu kembali tegak. Sekeras apapun hujaman yang menyentuh tubuhnya, ia kembali bangun. Jangan pernah lupakan itu”

benar. Mimosa pudica.. tak selamanya daun itu menguncup, saat ia merasa aman, angin akan membelainya lembut dan menyentuh sisi sadarnya. Lantas ia terbangun dengan nafas yang baru, menikmati terik matahari yang menghangatkan setiap bilurnya, dan ia bersiap akan sentuhan yang bisa menguncupkan daunnya lagi, selalu begitu, seperti siklus hidup yang tak pernah usai berputar.

“bangkitlah, sora. Bangkit..”

Ya, hidup bukan hanya tentang pertanyaan siapa, mengapa, dan bagaimana. Bukan pula tentang pilihan antara ya atau tidak, lebih jauh dari itu, ada kearifan yang perlu dipahami. Kearifan memandang hidup bukan hanya dari satu sisi, tapi bijak melihat dari berbagai sudut yang membingkai nya pada segala sisi. hidup itu tentang pemaknaan pada sebuah kata, tentang tawa riang di gelas-gelas kaca, tentang hati lapang tanpa sekam dan dendam membara. Tentang duka yang wajar disudut jendela.

Hidup itu menerima. Menerima segala takdir yang tergenggam dalam jiwa, meski warna-warni wujudnya.. Kamu boleh jatuh, terluka, pingsan, berdarah-darah, tapi selepas itu,kamu jangan lupa untuk berdiri lagi, dan bersiap untuk “kejutan hidup” selanjutnya, karena Hidup itu bukan Cuma tentang kamu saja.

Ingat mimosa pudica..

*Kristal bening pecah disudut mataku. Lalu semakin menderas


-----------------
tulisan lama : 9 agustus 2014

Sabtu, 20 September 2014

Minggu, 14 September 2014

"Allah saja memaafkan hambanya, seberapa pun banyak dosa yang dia perbuat. Lalu kenapa kita enggak belajar memaafkan dari pencipta kita?"

----------
14 september 2014. noted!

Rabu, 10 September 2014

Cerita Dari IBF Purwokerto

" Jagalah allah, niscaya engkau akan bersamanya. Kenalilah allah di waktu lapang, niscaya ia mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibat kesalahanmu, ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagiaan beserta kedukaan dan setiap kesulitan ada kemudahan”

 (Al-Hakim dan Ahmad)

alhamdulillah, telah selesai kerja-kerja di ibf pwt. rasanya nano-nano banget. kadang standby dari jam 9 pagi sampai jam 9 malem. kadang ada pengunjung yang iseng nanya-nanya gak penting di meja kerja saya di front office. kadang ngerasa mulai sakit,panas, demam, flu..  tapi langsung di dopping sama habbatussauda dan kangen water #eh *bukan promosi*
lelah.. tapi nikmat jika selalu diniatkan karenaNYA. 
alhamdulillah.. tangan, kaki, dan tubuh ini masih bisa bermanfaat buat orang lain.
alhamdulillah.. bisa silaturahim sama banyak orang, ketemu sama temen-temen, mba-mba, umi-umi yang udah lama banget tak ada kabar. 
alhamdulillah.. bisa tau cara kerja EO-EO sekelas syakaa. 
alhamdulillah.. bisa latihan banyak ngomong.

ah.. bakalan kangen banget sama momen seminggu kemarin (tgl 2-8 september 2014)

semoga bisa menambah pundi-pundi bekal untuk perjalanan jauh, ke akhirat nanti.
Allah, jemput aku dalam keadaan khusnul khatimah ya. pliss :')

Jumat, 05 September 2014

tanggal 3 september kemarin allah menegurku dengan halus ( lagi)
jatuh dari motor. alhamdulillah cuma luka di dagu sedikit karena nyium aspal, punggung tangan sama dengkul , dan pegel-pegel seluruh badan haha..
sakitnya sih gak seberapa, tapi malu nya :( banyak yang ngeliatin.

semoga bia mengggurkan dosa~
semoga bisa semakin bijak dalam bersikap~

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...