Pada titik nadhir yang paling dalam, pada cekungan jurang yang paling curam, aku menjatuhkan diri. Cadas-cadas tebing melirik angkuh, bebatuan yang lemah dan ikut jatuh kala kupijak pun ikut tersenyum sinis. Aku tak peduli.
Disini. Pada sudut tergelap yang pernah kutemui, aku mencoba berbicara kepada hati. Mengapa ia melukai dirinya sendiri? Menghujamkan ribuan tanda tanya yang tak pernah sampai, hingga menguap dan terlupa seakan tak pernah ada. Menusukkan sebilah kata yang tak pernah terucap, hingga berserakan dan tercecer begitu saja.
Ia diam saja.
Aku terpekur.
lama..
Kembali terngiang prosa yang tertulis di catatanku “pulanglah kepada aksara yang tertulis dalam kidung –kidung do’a, pulanglah kepada senja yang membawamu mengingat tiap karuniaNYA”
Sekejap kemudian, sebuah kesadaran baru menghampiri. tetiba Terngiang kembali kata-kata rai padaku suatu senja
Sekejap kemudian, sebuah kesadaran baru menghampiri. tetiba Terngiang kembali kata-kata rai padaku suatu senja
“kamu tau mimosa pudica kan? kamu tuh mirip seperti tumbuhan itu. pemalu. Disentuh sedikit langsung menutup diri. eh Tapi ingat ya, mimosa pudica selalu kembali tegak. Sekeras apapun hujaman yang menyentuh tubuhnya, ia kembali bangun. Jangan pernah lupakan itu”
benar. Mimosa pudica.. tak selamanya daun itu menguncup, saat ia merasa aman, angin akan membelainya lembut dan menyentuh sisi sadarnya. Lantas ia terbangun dengan nafas yang baru, menikmati terik matahari yang menghangatkan setiap bilurnya, dan ia bersiap akan sentuhan yang bisa menguncupkan daunnya lagi, selalu begitu, seperti siklus hidup yang tak pernah usai berputar.
“bangkitlah, sora. Bangkit..”
Ya, hidup bukan hanya tentang pertanyaan siapa, mengapa, dan bagaimana. Bukan pula tentang pilihan antara ya atau tidak, lebih jauh dari itu, ada kearifan yang perlu dipahami. Kearifan memandang hidup bukan hanya dari satu sisi, tapi bijak melihat dari berbagai sudut yang membingkai nya pada segala sisi. hidup itu tentang pemaknaan pada sebuah kata, tentang tawa riang di gelas-gelas kaca, tentang hati lapang tanpa sekam dan dendam membara. Tentang duka yang wajar disudut jendela.
Hidup itu menerima. Menerima segala takdir yang tergenggam dalam jiwa, meski warna-warni wujudnya.. Kamu boleh jatuh, terluka, pingsan, berdarah-darah, tapi selepas itu,kamu jangan lupa untuk berdiri lagi, dan bersiap untuk “kejutan hidup” selanjutnya, karena Hidup itu bukan Cuma tentang kamu saja.
Ingat mimosa pudica..
*Kristal bening pecah disudut mataku. Lalu semakin menderas
-----------------
tulisan lama : 9 agustus 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar