catatan awal maret, pulang, berbincang..
***
Malam ini, abi ngajak gue keluar. Belanja ke supermarket besar
deket rumah. Kesempatan dong buat gue haha. Kalo biasanya di pwt sana gue
belanja kebutuhan bulanan sendiri, kerasa banget gitu jomblo nya, mau beli yang
macem-macem juga selalu inget jumlah rupiah di dalem dompet, nah sekarang gue
ada temen jalannya. Ada yang bilang “ambil aja yang kamu suka dan kamu butuhin”
seneng kan tuh? Seneng banget. Tapi tenang.. gue tau diri lah ya. Seenggaknya
gue bisa ambil 2 batang coklat kesukaan gue.
Selepas itu, abi ngajak makan di sebuah tempat makan favorit abi. Gue
sih iya in aja. Ketika makan, abi
foto-fotoin gue, ngevideo in gue. Aish si abi kaya nya segitu kangennya kali ya
sama gue sampe lagi makan aja di foto-foto segala. wajar sih.. soalnya jarang-jarang bisa jalan berdua kaya gini. Di moment makan bareng
itu lah terjadi obrolan maha penting. Kenapa gue bilang maha penting? Soalnya abi
bahas hal-hal tentang masa depan. Obrolan selayaknya ayah dan anak perempuannya.
tetiba, abi langsung nembak gue dengan pertanyaan retoris
“jadi mau di pilihin
atau pilih sendiri? Dicariin atau cari sendiri?” abi ketawa
Dor. Untung gue bisa mengontrol diri sehingga makanan di
dalem mulut gue gak keluar berhamburan saking kagetnya *lebay dikit*
“ah apaan bi?” gue
pura-pura lugu. Padahal gue tau arah pembicaraan abi.
“ya itu, pengganti abi
buat kamu.” Abi senyum-senyum
“ooh itu. terserah abi
aja deh. Hehe “ gue tersipu malu. Pertanyaan yang selama ini jadi momok,
tetiba ditanyakan abi dengan santai. (atau mungkin abi juga malu nanya nya?)
“emang kamu gak ada
kriteria apa gitu? Seenggaknya ya zai, kita punya beberapa kriteria, biar nanti
gampang mencarinya”
“kriteria yang gimana
bi? Maksudnya gimana?” lagi-lagi gue sok polos
“misal kita tetapkan 5
kriteria, nah ketika proses mencari itu, minimal ya orang tersebut masuk 3 dari
5 kriteria. Kalau cuma 2 ya agak susah nanti ga nyambung”
“maksudnya gimana bi?”
lagi-lagi gue sok polos
“kalo boleh abi buat
nih kriteria versi abi. Satu, dia harus tarbiyah. Agak susah kalo pemahamannya
udah beda, nanti gak nyambung dong. Kedua, kalo bisa hafidz qur’an atau sedang
menghafal qur’an. Ketiga, punya penghasilan, maksudnya ekonominya stabil. Tidak
lagi terikat dengan orang tua. Karena kalo masih bergantung sama orang tua
nanti jadi susah juga zai, gaenak karena masih ada campur tangan orangtua.
Keempat kelima ya menyesuaikan. Nah minimal 3 dari 5 kriteria yang dibuat itu
terpenuhi”
“oh gitu ya, iya sih
bi kalo gak tarbiyah ya ga nyambung dong nanti”
“betul zai. Nah kamu
udah ada belum? Di purwokerto sana emang ga ada?”
Duh abi nanya apa nih? “maksudnya
bi?” gue tersipu malu. Senyum-senyum ga jelas gitu.
“ya yang sesuai
kriteria itu misalnya”
“emm emang boleh ya bi
perempuan yang milih, bukannya biasanya laki-laki yang milih?”
“ya bukan orangnya,
tapi yang sesuai kriteria itu. nanti kan menyesuaikan”
Jujur sampe sini gue belum ngerti maksud abi apa. Terus gue
mikir lagi. Oh mungkin maksudnya yang sesuai kriteria. Bukan orang yang gue
suka gitu *dih emang ada?*
Gue senyum-senyum malu. Ah pertanyaan maha penting dari
seorang ayah kepada anak perempuannya.
Lantas obrolan seputar jodoh itu menggantung begitu saja, kemudian abi bercerita tentang pentingnya jamaah, pentingnya kesamaan visi membangun peradaban. Pentingnya hal baik dimulai dari cara yang baik dan sebagainya.
“zai, kalo nabi kan punya keistimewaan berupa mukjizat. Kalo
orang-orang shalih apa coba?”
“apa ya bi, lupa euy
hehe”
“namanya karomah. Kamu
pernah denger cerita zainab al-ghazali? Beliau dijebloskan ke penjara berisi
anjing-anjing lapar yang siap menerkam. Tapi dengan rahmat allah, zainab
al-ghazali selamat. Atau cerita tentang
anak kecil palestina yang dilindas tank namun masih hidup dan masih bisa melempar
batu? juga kisah-kisah pejuang palestina yang mendapat syahid?
Semua itu karena mereka adalah pribadi-pribadi yang selalu
dekat dengan Allah. Coba bayangin deh. Individu terbaik, tentu berada dalam
jamaah yang baik pula. Abi gak bilang jamaah “terbaik” karena bukan kapasitas
kita untuk menjudge. Tapi jika dilihat, mudah-mudahan jamaah tarbiyah ini adalah jamaah yang diridhoi dan
diberkahi sama Allah.”
Lalu abi bercerita tentang ust.lh* yang dijebloskan ke
penjara padahal terbukti tidak bersalah, dan didalam sana beliau yang awalnya
di pandang sinis berubah menjadi di hormati karena semua orang tau kapasitas
beliau dan kebenaran dibaliknya. Gue Cuma bisa mendengarkan dengan seksama petuah-petuah
singkatnya. Quality time banget pokoknya mah. Gue jadi tau apa yang ada
dipikiran abi, gue jadi sedikit paham apa yang abi inginkan untuk masa depan
gue. Gue jadi paham bagaimana menyikapi masa depan. Sekarang waktunya
mempersiapkan, dibanding memantaskan, gue lebih suka kata ‘mempersiapkan’.
Persiapan yang baik, akan memudahkan perjalanan. Seperti
ketika mau naik gunung. Pendaki yang hanya berbekal sandal gunung dan sebotol
air akan merasa tidak nyaman selama proses pendakian. Berbeda dengan pendaki
yang membawa carrier penuh bekal. Dia akan melewati pendakian dengan bahagia.
Sebab semua sudah dipersiapkan dengan baik dari jauh sebelum hari pendakiannya.
Begitupula dengan jodoh, dengan pasangan hidup. Seseorang yang mempersiapkan dirinya dengan
baik, tidak akan gagap dengan yang akan terjadi sesudah hari pernikahan. Ia
akan mudah beradaptasi dan membiasakan diri. Tahu apa yang harus dilakukannya,
terampil mengelola diri dan memposisikan diri didepan pasangannya.
Ya sekarang waktunya untuk mempersiapkan. Ada dua hal yang
sesungguhnya sedang ditunggu oleh manusia. Pasangan hidup dan kematian. Tinggal
mana yang akan datang duluan. Maka sudah saatnya Mempersiapkan diri., untuk
dipinang oleh lelaki idaman atau oleh kematian.
Makasih abi. Lelaki nomor satu sedunia
----------
Baiti jannati, Bekasi 1 maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar