Jumat, 18 Maret 2016

When my precious man asked me about love

catatan awal maret, pulang, berbincang..

***
 Malam ini, abi ngajak gue keluar. Belanja ke supermarket besar deket rumah. Kesempatan dong buat gue haha. Kalo biasanya di pwt sana gue belanja kebutuhan bulanan sendiri, kerasa banget gitu jomblo nya, mau beli yang macem-macem juga selalu inget jumlah rupiah di dalem dompet, nah sekarang gue ada temen jalannya. Ada yang bilang “ambil aja yang kamu suka dan kamu butuhin” seneng kan tuh? Seneng banget. Tapi tenang.. gue tau diri lah ya. Seenggaknya gue bisa ambil 2 batang coklat kesukaan gue.
Selepas itu, abi ngajak  makan di sebuah tempat makan favorit abi. Gue sih iya in aja.  Ketika makan, abi foto-fotoin gue, ngevideo in gue. Aish si abi kaya nya segitu kangennya kali ya sama gue sampe lagi makan aja di foto-foto segala. wajar sih.. soalnya jarang-jarang bisa jalan berdua kaya gini. Di moment makan bareng itu lah terjadi obrolan maha penting. Kenapa gue bilang maha penting? Soalnya abi bahas hal-hal tentang masa depan. Obrolan selayaknya ayah dan anak perempuannya. tetiba, abi langsung nembak gue dengan pertanyaan retoris 

jadi mau di pilihin atau pilih sendiri? Dicariin atau cari sendiri?” abi ketawa

Dor. Untung gue bisa mengontrol diri sehingga makanan di dalem mulut gue gak keluar berhamburan saking kagetnya *lebay dikit*
ah apaan bi?” gue pura-pura lugu. Padahal gue tau arah pembicaraan abi.
ya itu, pengganti abi buat kamu.”  Abi senyum-senyum
ooh itu. terserah abi aja deh. Hehe “ gue tersipu malu. Pertanyaan yang selama ini jadi momok, tetiba ditanyakan abi dengan santai. (atau mungkin abi juga malu nanya nya?)
emang kamu gak ada kriteria apa gitu? Seenggaknya ya zai, kita punya beberapa kriteria, biar nanti gampang mencarinya”
“kriteria yang gimana bi? Maksudnya gimana?” lagi-lagi gue sok polos
misal kita tetapkan 5 kriteria, nah ketika proses mencari itu, minimal ya orang tersebut masuk 3 dari 5 kriteria. Kalau cuma 2 ya agak susah nanti ga nyambung”
“maksudnya gimana bi?”  lagi-lagi gue sok polos
“kalo boleh abi buat nih kriteria versi abi. Satu, dia harus tarbiyah. Agak susah kalo pemahamannya udah beda, nanti gak nyambung dong. Kedua, kalo bisa hafidz qur’an atau sedang menghafal qur’an. Ketiga, punya penghasilan, maksudnya ekonominya stabil. Tidak lagi terikat dengan orang tua. Karena kalo masih bergantung sama orang tua nanti jadi susah juga zai, gaenak karena masih ada campur tangan orangtua. Keempat kelima ya menyesuaikan. Nah minimal 3 dari 5 kriteria yang dibuat itu terpenuhi”
“oh gitu ya, iya sih bi kalo gak tarbiyah ya ga nyambung dong nanti”
“betul zai. Nah kamu udah ada belum? Di purwokerto sana emang ga ada?”
Duh abi nanya apa nih? “maksudnya bi?” gue tersipu malu. Senyum-senyum ga jelas gitu.
“ya yang sesuai kriteria itu misalnya”
“emm emang boleh ya bi perempuan yang milih, bukannya biasanya laki-laki yang milih?”
“ya bukan orangnya, tapi yang sesuai kriteria itu. nanti kan menyesuaikan”
Jujur sampe sini gue belum ngerti maksud abi apa. Terus gue mikir lagi. Oh mungkin maksudnya yang sesuai kriteria. Bukan orang yang gue suka gitu *dih emang ada?*
Gue senyum-senyum malu. Ah pertanyaan maha penting dari seorang ayah kepada anak perempuannya.

Lantas obrolan seputar jodoh itu menggantung begitu saja, kemudian abi bercerita tentang pentingnya jamaah, pentingnya kesamaan visi membangun peradaban. Pentingnya hal baik dimulai dari cara yang baik dan sebagainya.
 “zai, kalo nabi kan punya keistimewaan berupa mukjizat. Kalo orang-orang shalih apa coba?”
“apa ya bi, lupa euy hehe”
“namanya karomah. Kamu pernah denger cerita zainab al-ghazali? Beliau dijebloskan ke penjara berisi anjing-anjing lapar yang siap menerkam. Tapi dengan rahmat allah, zainab al-ghazali selamat. Atau cerita tentang anak kecil palestina yang dilindas tank namun masih hidup dan masih bisa melempar batu? juga kisah-kisah pejuang palestina yang mendapat syahid?
Semua itu karena  mereka adalah pribadi-pribadi yang selalu dekat dengan Allah. Coba bayangin deh. Individu terbaik, tentu berada dalam jamaah yang baik pula. Abi gak bilang jamaah “terbaik” karena bukan kapasitas kita untuk menjudge. Tapi jika dilihat, mudah-mudahan jamaah  tarbiyah ini adalah jamaah yang diridhoi dan diberkahi sama Allah.”
Lalu abi bercerita tentang ust.lh* yang dijebloskan ke penjara padahal terbukti tidak bersalah, dan didalam sana beliau yang awalnya di pandang sinis berubah menjadi di hormati karena semua orang tau kapasitas beliau dan kebenaran dibaliknya. Gue Cuma bisa mendengarkan dengan seksama petuah-petuah singkatnya. Quality time banget pokoknya mah. Gue jadi tau apa yang ada dipikiran abi, gue jadi sedikit paham apa yang abi inginkan untuk masa depan gue. Gue jadi paham bagaimana menyikapi masa depan. Sekarang waktunya mempersiapkan, dibanding memantaskan, gue lebih suka kata ‘mempersiapkan’.

Persiapan yang baik, akan memudahkan perjalanan. Seperti ketika mau naik gunung. Pendaki yang hanya berbekal sandal gunung dan sebotol air akan merasa tidak nyaman selama proses pendakian. Berbeda dengan pendaki yang membawa carrier penuh bekal. Dia akan melewati pendakian dengan bahagia. Sebab semua sudah dipersiapkan dengan baik dari jauh sebelum hari pendakiannya.
Begitupula dengan jodoh, dengan pasangan hidup.  Seseorang yang mempersiapkan dirinya dengan baik, tidak akan gagap dengan yang akan terjadi sesudah hari pernikahan. Ia akan mudah beradaptasi dan membiasakan diri. Tahu apa yang harus dilakukannya, terampil mengelola diri dan memposisikan diri didepan pasangannya.
Ya sekarang waktunya untuk mempersiapkan. Ada dua hal yang sesungguhnya sedang ditunggu oleh manusia. Pasangan hidup dan kematian. Tinggal mana yang akan datang duluan. Maka sudah saatnya Mempersiapkan diri., untuk dipinang oleh lelaki idaman atau oleh kematian.
Makasih abi. Lelaki nomor satu sedunia
----------
Baiti jannati, Bekasi 1 maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...