Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Lorong di sepanjang ruang jurusan sudah sepi, padahal dua jam lalu masih riuh dengan anak-anak 2012 yang sedang antri menunggu wawancara outline.
tadi saya datang jam sembilan pagi, sudah dua hari berturut-turut saya ditolak untuk bimbingan, hari ini adalah hari yang dijanjikan ibu dosen untuk datang. sebelum berangkat saya kumpulkan segenap keberanian, saya buang segala ketakutan, tak lupa menggenggam sebait do'a. toh ini hanya tugas akhir, tugas yang terakhir.
jam setengah sebelas saya dipanggil masuk, saya tak salah dengar ketika lima hari yang lalu ibu bilang "udahlah mba, ini terakhir ya"
tentu saya sangat senang mendengar kelimat kepasrahan ibu tersebut, artinya menurut hitunganku setelah aku rapikan beberapa tulisan yang typo, draft skripsi ini akan segera di acc.
sekitar dua menit ibu membolak-balik halaman skripsiku, "looh kok gini mba, emang saya bilang suruh gini ya? coba saya liat revisi yang lalu mana, kok berantakan gini mba?"
what?
saya lemes.. kebetulan saat itu saya lupa bawa draft revisian yang lalu.
"yaudah kamu betulin dulu, ntar siang ke saya lagi"
"ntar siang ibu masih ada?"
"iya ada"
setengah berlari saya melangkah pulang, tadinya niat mau ngeprint di foto copyan aja yang dekat, ternyata flashdisk pun lupa dibawa. alhasil saya mau tidak mau harus pulang.
setengah berlari saya melangkah pulang, tadinya niat mau ngeprint di foto copyan aja yang dekat, ternyata flashdisk pun lupa dibawa. alhasil saya mau tidak mau harus pulang.
saya mempercepat langkah, sambil menahan tangis agar tidak tumpah. tatapan aneh orang-orang taklagi saya pedulikan, saya ingin cepat sampai rumah.
***
sampai di depan pintu kamar, saya tak kuasa menahan tangis, sesak yang mengendap sejak hari jumat ketika saya menunggu ibu sampe sore namun ia tak datang., kini luruh semua. laptop saya nyalakan, flasdisk saya colokkan, tergesa, masih sambil menangis sesenggukan. untung penghuni kamar di depan saya masih belum pulang.
saya kesal sekesal kesalnya
saya marah se marah marahnya
saya sedih se sedih sedihnya.
***
jam setengah dua belas draft revisian selesai, saya kembali berjalan cepat menuju kampus. hari mulai mendung, ah kumohon jangan hujan dulu.
tepat ketika saya masuk ruang ibu, beliau sedang bersiap-siap pergi. beliau menyuruh saya meletakkan saja draft nya di ruangan, lantas beliau pergi dengan teman-teman dosen lain.
saya cuma termangu...
***
adzan dzuhur berkumandang, saya memutuskan untuk shalat di masjid kampus, masjid Nu. kali ini saya sedang menghindari mbm, karena saya menghindari banyak pertanyaan yang akan muncul dari adik - adik kelas.
masjid kampus sepi, saya tertinggal shalat berjamaah karena mampir dulu ke atm, mengambil sejumlah uang, entah kenapa shalat kali ini airmata kembali menggenang, tak hentinya merembes dari mata. setelah shalat, saya keluarkan susu kotak dan roti yang baru saja dibeli di swalayan kampus, lumayan menahan perihnya asam lambung karena belum ada makanan apapun yang masuk sejak pagi.
saya mempertanyakan keadilan tuhan..
saya mempertanyakan kasih sayang tuhan..
saya mempertanyakan keberadaan tuhan buat saya..
mengapa begitu sulit untukku?
mengapa adik-adik yang belakangan maju malah di acc duluan?
mengapa mereka sudah ujian skripsi, sudah pendadaran?
ah begitu lemah, manusia.. hanya bisa merencanakan, namun pada akhirnya tuhan lah yang menentukan.
padahal lepas shalat dhuha tadi, sudah ku dawamkan dalam hati bahwa "ku terima semua keputusanmu atas masa depanku ya Allah"
padahal telah ku ulang-ulang kalimat bahwa pasrahkan hidup dan matiku hanya pada-Nya
padahal telah ku ulang-ulang dzikir pagi dan petang untuk-Nya
padahal.. telah ku katakan aku mencintai-Nya
***
jam dua siang, ibu dosen datang, ku biarkan beliau shalat dulu, sampai akhirnya saya dipanggil masuk.
"ya udah, nih ke dosen 1 dulu ya, nanti kalau oke, langsung daftar ujian"
***
keluar ruangan, kembali mrebes mili, sembari tak hentinya saya mengucap syukur.
"Allah, sebenernya saya udah muak sama skripsi saya ini, kalau saya tidak mengingat pengorbanan kedua orang tua yang telah mengantar saya sampai bengku kuliah, kalau saya tidak ingat bahwa skripsi ini adalah salah satu bentuk jalan juang saya sebagai orang beriman, kalau saya tidak ingat bahwa menahan kebodohan lebih pahit daripada menahan susahnya belajar, tentu sudah sejak lama saya tinggalkan lembaran-lembaran skripsi ini, saya buang, saya campakkan semua kertas nya."
Allah, maafkan saya yang mudah menyerah, maafkan saya yang baper, maafkan saya yang mempertanyakan kuasa-Mu, maafkan saya yang lemah ini..
***
hari mulai mendung, langit makin gelap.
saya masih sangat-sangat lemas untuk bisa pulang jalan kaki,
tapi, saya tak ingin kehujanan lagi hari ini, baiklah saya pulang.
kali ini.... benar-benar akan kupasrahkan semua padamu, Rabbi
--------------
*gak ada waktu buat istirahat, sakit jangan dimanjain!*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar