Sabtu, 15 Oktober 2016

Biarlah Doa..

sore kemarin, kulihat senja yang muram, dan wajah-wajah letih yang merindukan pulang.

Setiap sore rutinitas sepulang kerja adalah menempuh perjalanan yang sama, dengan angkutan kota yang sama, dan penumpang yang sama. yap aku hampir tertawa setiap kali memasuki angkutan kota dan mendapati wajah-wajah letih yang sama seperti hari sebelumnya. seperti film pendek yang diputar berulang-ulang dengan momen yang itu-itu saja.
Baru kusadari, menjemput rezeki memang takmudah. semua sama tantangannya. sama ujiannya. bekerja di kantor full ac, atau mengais rezeki di pinggir jalan. Menjadi direktur, atau menjadi pedagang asongan ; Sama. 
yang membedakan hanya kadar syukur dan sabar yang menyertai langkah kita.
seluas apa samudera hati yang dimiliki, 
setegar apa bahu kita kala harus menerpa hujan, menerpa angin dingin. atau berjalan sendirian,

Jadi, biarlah doa menyertai setiap usaha kita untuk selalu bekerja karena-Nya, sebagai ikhtiar menjemput rezeki dan menjemput takdir-Nya.
Biarlah doa menjadi penghubung kita dengan Dia, yang takpernah alpa dalam mengatur urusan hambanya.
--------------
rumah, 15 Oktober 2016
selepas hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...