22 Desember 2016
Tak ada puisi, tak ada hadiah, tak ada ucapan selamat hari ibu seperti yang biasa ku berikan, mungkin lebih tepatnya tak sempat terpikirkan.
Pekan ini pekan yang melelahkan, menguras tenaga, uang dan pikiran.
Pekan ini aku dua kali masuk ugd, empat kali singgah di dua rumah sakit yang berbeda
Kalau sudah begini, aku benar-benar tidak suka frasa rumah-dan-sakit.
Rumah untuk orang sakit. Ah~
Wara wiri rumah sakit sudah pasti yang paling repot ya umi sama abi.
Abi adalah ayah siaga yang sigap mengantar ku ke ugd rumah sakit terdekat, dan umi? Jangan ditanya seberapa besar rasa sayangnya, ia yang rela mengantarku kemana-mana, jua memastikan keadaanku berulang kali.
Hari ibu?
Ia jadi saksi ketangguhan umi, kasih sayang yang mengalir tanpa putus, ia jadi momen dimana pena ku semakin sulit merangkai bait aksara untuknya.
Cukuplah tanggal dua puluh dua di tahun ini menjadi pengingat bagiku bahwa ada sosok bidadari yang telah Allah kirimkan untuk membersamai hari-hari
Semoga ia selalu sehat, bahagia, cukup rezeki, berlimpah kasih sayang dan terus mencintai kami tanpa batas.
Aku ingin sehat,umi :')
Aku sayang umi karena Allah
Sabtu, 24 Desember 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Featured post
Sandal
Akhirnya aku punya sandal. Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu. Setahun di pulau seberang, kemana...
-
memang begitu lazimnya bukan? kau harus berpayah-payah atas apa yang kau inginkan. tidak ada yang instan, sayang. semua butuh perjuangan. pu...
-
Cinta tak pernah terdefinisikan dengan benar. Apapun itu, bagiku mencintai adalah seperti matahari yang berpulang pada senja.menjelma d...
-
Saya sering menganalogikan kisah-kisah hidup saya sebagai sebuah perjalanan. Mulai pemberangkatan dari satu titik, lalu berpindah ke tit...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar