Aku tak pernah tau apa yang mereka inginkan.
Aku diam, bukan
berarti aku menerima semua itu dengan baik. Aku selalu mencoba memahami jalan
pikiran mereka tapi aku gagal dan selalu menyerah. memahami sesuatu bukanlah pekerjaan mudah, butuh
kedewasaan berfikir dan bersikap. Beberapa hal mungkin bisa aku maklumi,
bertemu sesaat, menyapa, lantas pergi. Menghilang. Padahal di awal kita saling
tersenyum dan mengumbar tawa, berpegangan tangan sambil berteriak lantang pada
langit, “inilah kita. Mimpi-mimpi ini, harapan ini, semua akan terwujud.kami
yakin.”
Saat itu, Kami begitu optimis mengepalkan tangan bersama dan
berdiri dengan rasa bangga yang menyala-nyala. Ah, itu dulu.
Aku kembali, berlari sebentar mencoba menyejajarkan langkah
dengan mereka. Entah aku yang terlalu lama berjalan,atau mereka yang terlalu
cepat. Ingin rasanya meneriakkan pada langit “hei, pergi kemanakah mimpi-mimpi
itu?, terjebak di jalan manakah harapan-harapan itu?”
Sesaat lalu mereka menoleh padaku, namun tak seorangpun yang
mengulurkan tangan tuk menyambutku yang terseok-seok mengejar mereka. Tak ada
senyum. Tak ada sapa.
Lantas aku kembali tertinggal dari barisan mereka. berjalan
sendiri dengan kepala tertunduk.
Percuma.
Percuma
aku berusaha menggapai lengan-lengan mereka. tak ada lagi yang tersisa.
Aku
sendiri.
Berhenti
tuk mencoba memahami, karena dunia mereka sama sekali tak ingin ku selami.
Semua mimpi kami mungkin hanya tinggal kenangan yang
tertinggal dimasa lalu.
Cahayalangit-senja
Pwt- 22 september 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar