Kamis, 04 Oktober 2012

Tentang mimpi.

Aku tak pernah tau apa yang mereka inginkan. 
Aku diam, bukan berarti aku menerima semua itu dengan baik. Aku selalu mencoba memahami jalan pikiran mereka tapi aku gagal dan selalu menyerah. memahami  sesuatu bukanlah pekerjaan mudah, butuh kedewasaan berfikir dan bersikap. Beberapa hal mungkin bisa aku maklumi, bertemu sesaat, menyapa, lantas pergi. Menghilang. Padahal di awal kita saling tersenyum dan mengumbar tawa, berpegangan tangan sambil berteriak lantang pada langit, “inilah kita. Mimpi-mimpi ini, harapan ini, semua akan terwujud.kami yakin.”

Saat itu, Kami begitu optimis mengepalkan tangan bersama dan berdiri dengan rasa bangga yang menyala-nyala. Ah, itu dulu.

Aku kembali, berlari sebentar mencoba menyejajarkan langkah dengan mereka. Entah aku yang terlalu lama berjalan,atau mereka yang terlalu cepat. Ingin rasanya meneriakkan pada langit “hei, pergi kemanakah mimpi-mimpi itu?, terjebak di jalan manakah harapan-harapan itu?”

Sesaat lalu mereka menoleh padaku, namun tak seorangpun yang mengulurkan tangan tuk menyambutku yang terseok-seok mengejar mereka. Tak ada senyum. Tak ada sapa.
Lantas aku kembali tertinggal dari barisan mereka. berjalan sendiri dengan kepala tertunduk.
Percuma.
Percuma aku berusaha menggapai lengan-lengan mereka. tak ada lagi yang tersisa.
Aku sendiri.
Berhenti tuk mencoba memahami, karena dunia mereka sama sekali tak ingin ku selami.
Semua mimpi kami mungkin hanya tinggal kenangan yang tertinggal dimasa lalu.



Cahayalangit-senja
 Pwt- 22 september 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...