Aku selalu berpikir apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Ia hadir sejenak membawa keindahan, untuk kemudian pergi menyisakan ketiadaan.
Apakah senja ada, untuk sekadar menjadi metafora—bahwa di muka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa dalam setiap kata hadir selalu terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa pernah kita tahu persis waktunya?
Adakah yang tahu apa yang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?
Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.
Aku tak pernah tahu pasti apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Satu hal yang aku tahu, darinya aku belajar bahwa perpisahan—sedramatis apapun ia berlangsung—tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.
Sebab itu barangkali Jalaluddin Rumi menghibur mereka yang mengalami tragedi keterpisahan lewat potongan sajaknya. Keterpisahan ini, kata Rumi, hanyalah tipu daya waktu.
-------------------
by :azhar nurun ala
Sabtu, 22 Maret 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Featured post
Sandal
Akhirnya aku punya sandal. Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu. Setahun di pulau seberang, kemana...
-
memang begitu lazimnya bukan? kau harus berpayah-payah atas apa yang kau inginkan. tidak ada yang instan, sayang. semua butuh perjuangan. pu...
-
Cinta tak pernah terdefinisikan dengan benar. Apapun itu, bagiku mencintai adalah seperti matahari yang berpulang pada senja.menjelma d...
-
Saya sering menganalogikan kisah-kisah hidup saya sebagai sebuah perjalanan. Mulai pemberangkatan dari satu titik, lalu berpindah ke tit...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar