Rabu, 28 Mei 2014

Catatan setelah perjalanan

Catatan kecil ini kubuat setelah perjalanan panjang dua puluh satu tahun hidup yang mengagumkan, bepergian ke banyak tempat, bertemu orang-orang dengan berbagai bahasa, belajar banyak hal, menyimak setiap senti kehidupan dari berbagai sudut yang berbeda.

Catatan kecil ini kubuat sepulang dari pendakian gunung lawu. Dengan mata yang masih setengah mengantuk, kaki yang masih pegal dan jemari yang sakit karena beberapa kali terpaksa berpegang pada pepohonan di sepanjang jalur pendakian.

Catatan kecil ini kubuat diantara sayup angin lembut yang berhembus didepan perpustakaan kampus, ditemani sekotak susu favorit dan alunan instrumen mozart dan depapepe.

Apa kabar umi,abi?

Melalui catatan kecil ini aku ceritakan pada kalian betapa mengagumkannya hidup ini, betapa luasnya bumi ini, dan betapa beragamnya manusia yang hidup didalamnya.

Melalui catatan kecil ini, aku ingin tunjukkan pada kalian tentang semesta yang membawaku mengunjungi mimpi-mimpi yang aku percayai, pada tujuan besar dalam hidupku.

Melalui catatan kecil ini, aku ingin berterimakasih pada kalian dan padaNYA, karena aku terlahir dari rahim umi, dan besar dengan kasih sayang dan cinta yang tak terhingga dari abi selama dua puluh satu tahun terakhir dan bahkan mungkin selamanya.

Teruntuk umi dan abiku tersayang,

Terimakasih karena membiarkanku pergi, jauh dari rumah. Mengejar semua mimpi dan cita-citaku.

Terimakasih karena membiarkanku berkelana, melakukan perjalananku sendiri, merasakan kebebasan dan menikmati dunia. Meski aku tahu setiap kebebasan tidak pernah berarti benar-benar bebas, ada tanggung jawab dan amanah didalamnya dan aku siap mempertanggungjawabkan segala resikonya.

Terimakasih karena membiarkanku mengemasi barang, memanggul ransel dan berkelana untuk menghayati semua ciptaanNYA , menghayati setiap perjalanannya.. terkantuk-kantuk di gerbong kereta kelas ekonomi, atau terguncang di bis yang sedikit sesak oleh manusia, bercengkrama dengan adik kecil yang menggemaskan, atau pernah hampir mendapat perbuatan tak menyenangkan seseorang,.

Terimakasih karena membiarkanku pergi berburu matahari terbit di puncak gunung, menundukkan hati pada setiap langkah, merengkuh kedamaian dari bibir pantai, menikmati nyanyian ombak, menatap bulir-bulir padi yang menguning, dan menjemput burung gereja yang pulang ke sangkarnya

Terimakasih telah mengizinkanku mendaki... menikmati setiap tarikan nafas yang tersengal, kaki – kaki yang pegal, tangan yang menjadi merah dan penuh goresan, wajah yang berbedak debu dan kepulan tanah, tubuh yang menggigil hebat, dan tetiba limbung terjatuh karena menginjak akar pohon,, kepala yang terantuk ranting pohon menjuntai,

Umi abi.. Aku ingat, pertama kali meminta izin untuk mendaki, kalian langsung mengiyakan tanpa merasa perlu cemas terjadi sesuatu pada anak perempuannya, aku baru tahu kemudian alasannya, ternyata kalian menitipkanku pada Allah, dan tiada yang lebih hebat penjagaannya selain DIA bukan?

Pendakian kedua, ketiga dan keempat pun kalian menyetujuinya seperti biasa hingga aku sempat berfikir tak perlu minta izin saja. Namun urung ku lakukan karena aku tahu ridho Allah bergantung ridho orangtua. Ah.. pernah suatu ketika umi menanyakan apakah jalur pendakiannya pernah dilewati manusia atau buka jalur baru seperti di film-film yang tokohnya harus menebas satu persatu ilalang didepannya. Aku tertawa.. tentu saja tidak seperti itu umi

Perjalanan dan pendakian bagiku adalah salah satu bentuk pengabdian padaNya, seperti dikatakan idhan lubis,teman soe hok gie yang dijemput olehNya dipuncak mahameru.

Terimakasih karena mengantarkanku melihat dunia. Berjalan sejauh yang aku mau, berlari sekencang yang aku bisa, kelak jika tiba waktunya akupun akan membiarkan anakku melakukan itu.

Akan kubiarkan ia memilih jalan hidupnya sendiri, melintasi setiap sudut tempat indah nan eksotis di bumi, akan kubiarkan ia tersesat di antara orang dengan berbagai bahasa, atau sendiri dalam peron stasiun, terminal bus dan ruang tunggu bandara yang sepi. Seperti kalian yang mengizinkanku melakukannya.

Umi abi..

Perjalananku belum usai, masih banyak tempat dalam peta yang belum ku datangi, kaki ini masih sanggup berjalan berkilo kilo meter, pundak ini masih kuat memanggul ransel besar, dan duduk berjam-jam di kereta

Tapii sungguh aku telah menemukan tujuan hidupku, telah menemukan duniaku sendiri, yaitu menjadi anak yang semoga mampu mengantar kalian ke syurga, dan kelak menjadi ibu, dengan anakku sebagai pusat dunianya,

Setelah ini, aku akan kembali menuju rumahku yang sebenarnya, tempat segala damai bermuara. Aku akan pulang dan mengukir senyum bangga di wajah kalian, dengan jubah toga dan sebuah buku penuntas kewajibanku,

Juni dua ribu lima belas. Doakan ya.

Selamat menikmati hidup yang sungguh luarbiasa


“aku tak pernah berniat menaklukkan gunung, mendaki gunung adalah bagian dari pengabdian... pengabdianku kepada yang maha kuasa” 


–idhan lubis 10 maret 1969


Purwokerto, awal januari 2014 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...