Senin, 28 September 2015

Ini Cinta

“fokus saja sama skripsimu, lupakan yang lain. Jangan terlalu di forsir”
Katamu suatu hari, dan aku hanya tersenyum atau cengar-cengir saja, sesekali mendesah pelan sambil menggelengkan kepala. Lantas aku merenung dalam-dalam. “Benarkah yang kamu katakan?”
Aku bertanya jauh kedalam diri. Siapalah aku ini?
Aku yang bukan siapa-siapa.
Aku yang hanya ingin merasakan nikmatnya berpeluh dan berlelah di jalan perjuangan seperti mereka
Aku yang masih sering terluka, kecewa, tertekan walau aku tau itu semua sudah lebih dulu dirasakan oleh mereka
Aku yang hanya ingin bisa menghargai waktu dan mampu membagi waktu agar mampu totalitas dimanapun aku berada, seperti mereka
Aku yang masih ingin belajar dan mengajarkan banyak hal yang aku bisa, seperti mereka.

Kemudian senja membawaku pada sebuah percakapan di ujung lorong kampus beberapa tahun yang lalu. Aku pernah bertanya kepada salah satu dari mereka 
“apa yang menyebabkanmu mampu tersenyum sepanjang hari, meski setiap harinya agenda-agenda telah berbaris rapi? Apa yang menyebabkanmu memiliki energi besar untuk beraktivitas seharian menjadi pembicara, rapat organisasi, atau sekedar menjadi pendengar curhatan yang baik bagi adik tingkatmu tanpa mengeluh, meski kamu tahu tak ada sepeserpun rupiah yang mengisi pundi-pundi tabunganmu, hanya ucapan terimakasih atau sekedar makanan ringan yang disediakan?”

“CINTA” begitu katanya sambil tersenyum meneduhkan. Saat itu aku mengerjap perlahan, melafalkannya berulang-ulang. Meresapkan kata itu kedalam sanubari. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengenal lebih dalam tentangnya.

Dan kini aku merasakannya. Aku mulai mengerti. Ini “CINTA” dan ini tentang sebuah komitmen untuk memberi, tidak melulu menerima, Persis seperti yang dikatakan oleh seorang ustadz, seorang syaikut tarbiyah  yang sangat aku hormati.
memang seperti itulah dakwah, dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.. lagi-lagi memang seperti itulah dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel ditubuh rentama. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. tubuh yang hancur-lebur dipaksa berlari .. "  (Alm. Ustadz Rahmat Abdullah)

Dan kini.. untukmu yang masih bertanya tentang apa yang kulakukan, mungkin inilah makna cinta yang kupahami, 
Ketika berjalan beberapa kilometer demi menghadiri sebuah lingkaran cinta tersebab kendaraan umum sudah takada, ketika harus dimaki-maki saat mempertahankan prinsip yang diperintahkan oleh-Nya, ketika memenuhi undangan forum akhwat di kota sebelah meski harus berdesakan di bis antar kota 
Atau saat menikmati kesendirian. Melewati masa-masa penuh kekecewaan, tekanan dan hal lain. Aku menikmatinya seperti beberapa tahun silam ketika aku menikmati masa-masa menghapus airmata sendirian sepanjang perjalanan
Atau saat aku menikmati kebersamaan, duduk ditengah kumpulan manusia – manusia hebat hingga aku selalu berdoa agar kelak aku dapat seperti mereka.

Memang seperti itulah cinta. Dan aku bahagia ketika mengatakan ya, inilah CINTA. 
------------------
Purwokerto, 28 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...