Selasa, 29 September 2015

Lelaki syurga #2


taken at petanahan beach, two years ago-
Pada awal malam, ketika membaca sebuah artikel di sebuah majalah islam temanya tentang ayah. Tetiba rindu sangat sama abi. Lelaki yang selalu aku rindukan diam-diam. maka telepon seluler menjadi perangkat paling ampuh untuk memangkas jarak. Kukirimkan pesan – pesan singkat yang mengisyaratkan bahwa aku kangen sama abi.
“bi, lagi ngapain?”
“baru selesai shalat isya. Maaf ya blm sempet transfer lagi nih”
Dih abi mah gitu, aku gak minta uang kok hehe aku tertawa pelan.
“iya gpp bi, umi lagi ngapain, sal udah pulang?”
“lagi nyetrika baju. Udah lagi main hp. Kamu udah makan belum?”
Seperti biasa, pertanyaan yang sangat kuhafal. Aku tersenyum
“belum bi,  nitip sama temen yang lagi  keluar.” 
Hampir saja ku pencet tombol send, lalu kuurungkan dan kembali mengetik :
“.......bi, aku mau ngehafalin al-Qur’an. Aku mau jadi hafidzhoh. Doain ya biiiii”

Sent. Tetiba perasaanku berdesir halus. Ada haru yang menyeruak disana. Ya. Ini azzamku. Ini keinginan terbesarku saat ini, umi.. lihatlah, aku telah menemukan salah satu tujuan besar dalam hidupku.
Tak lama kemudian hp kecilku bergetar tanda ada pesan yang masuk
“aamiin.. senantiasa di doain sama abi ummi. Pasti bisa.. harus lebih baik dari semua anggota keluarga dan saudara kita ya”

Aku meleleh, perlahan getah getah bening mulai menggenang di sudut mata.
“iya bi..” sent
“ ok. Doain abi juga biar lancar usaha abi. Alhamdulillah kemarin baru ada order lagi....(abi mulai bercerita ttg usahanya) oya kamu katanya mau pulang, kapan?”
“aamiin.. sebelum tanggal 11 bi”
“oke, ada yang mau didiskusikan lagi?”

Abi seperti tahu apa yang tersimpan di sudut kepalaku. Perlahan jemariku mulai mengetik, diiringi gerimis yang tak kunjung reda dari sudut mata.

“bi, hmm kayanya aku ga bisa wisuda desember deh. Aku baru acc judul awal september, baru dua kali revisi dan kaya nya gak ke kejar desember........(ku jelaskan panjang lebar ttg alur dan tahap kelulusan yang masih panjang untuk kulalui). Paling periode maret, tapi ya itu harus bayar spp lagi di bulan januari” 
aku menahan nafas pelan, aku tahu ini pasti sulit bagi abi. masih harus menanggung segala tentangku padahal disisi lain sudah ada hal-hal lain yang mampu menguras tabungannya lebih banyak lagi.

“iya ga apa – apa. Yang penting urusan dakwah lancar, tahfidz nya juga lancar.. buah keberkahan semoga lekas selesai urusan kuliahmu..”

Singkat, jelas dan padat. Betapa abi selalu memahamiku. Betapa luas hati yang abi punya.
“aamiin.. iya sambil menyelesaikan amanah satu persatu sama nge hafalin bi.makasih biiiii :") ”
“waiyyaki.. sana makan dulu”

Dan sambil menunggu makanan datang aku sibuk menghapus butiran bening ini. Betapa Allah karuniakan kepadaku seorang ayah yang luar biasa. Seorang ayah yang ditempa dengan tarbiyah. Seorang ayah yang selalu berusaha baik dan menjadi qowwam yang baik. Seorang ayah yang tak pernah kehilangan senyumnya di depanku.

Allah terimakasih telah menitipkanku pada seorang ayah yang mencintaimu. Sehingga cintanya padaku tak pernah membuatnya lupa akan ayat – ayat-Mu. Sehingga hanya ridhomu Allah yang menjadi tujuan segala tingkah laku

Ayah adalah bahasa cinta yang kosa katanya berbeda. ayah adalah mata air cinta yang  narasi kemasannya berbeda. semoga belum terlambat bagi kami untuk memahami, betapa ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kami

---------------
Purwokerto, 29 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...