Minggu, 12 Maret 2017

Menggenap

H-7

Kata bahagia itu menjelma menjadi titik-titik cemas. Sebab semakin terbuka tabir yang menyekat diantara kita.
Aku perempuan dengan dominasi perasaan dan kamu laki-laki dengan dominasi logika. Dapatkah titik perbedaan itu saling melaju dengan tujuan yang sama?
Haruskah kita menanggalkan satu demi satu ego yang tersemat dalam dada, agar kita mampu berjalan seirama?

Aku belajar.
Bahwa keputusan untuk menggenap dengan seseorang yang baru, yang benar-benar baru, yang begitu asing, dan baru sekali bertemu adalah tentang bagaimana kita mampu saling bertoleransi terhadap berbagai perbedaan. Menggenap berarti belajar untuk saling menerima kekurangan sebagaimana kita mendapat banyak kebaikan dari pasangan.

Menggenap berarti saling bergenggaman, berjalan bersisian, menyempurnakan langkah yang goyah, tanpa saling meninggalkan.

Menggenap berarti siap berjuang dan memperjuangkan, shalih/ah dan menshalih/ah kan.

Menggenap itu butuh dua pasang kaki yang melangkah sama jauhnya, sama tujuannya.
Butuh dua pasang tangan yang saling menguatkan kala perjalanan belum sampai pada titik pemberhentian. 
Butuh dua pasang hati yang selalu berdoa agar dimampukan, menghadapi segala rintangan dalam perjalanan.

Aku belajar. 
Menggenap adalah menemukan apa dan siapa yang membuat kita merasa cukup. Tak harus yang sempurna, tapi dengan apapun yang disuguhkan, mampu membuat kita bahagia

Menggenap adalah jika kita hidup bersama, maka itulah ruang pembelajaran selamanya.

H-7
  1. Ya Allah, mampukan, mampukan, mampukan 😢


#bersyukur
#30harizainabbercerita
#Aweektogetmarried

Selasa, 07 Maret 2017

Persiapan

Sesaat setelah dikhitbah, saya mulai dirundung bermacam perasaan, ada rasa bahagia pastinya, ada rasa haru, rasa takut, rasa khawatir dan bermacam rasa lainnya. Tentu porsi rasa bahagia yang jumlahnya berkali lipat dibanding yang lain membuat hari-hari saya menjadi lebih berwarna, namun takjarang pula rasa - rasa lain takmampu saya tutupi keberadaannya.
;
Ada rasa takut, takut belum mampu membahagiakan orangtua, takut takmampu berbagi cinta yang sama dengan mertua, takut takbisa menjadi istri yang sempurna bagi dia.

Ada rasa cemas, tentang rumah dan lingkungan yang akan ditempati, keterampilan mengelola rumah tangga yang belum mumpuni, juga tentang peran dakwah yang akan diambil di perantauan nanti.

Tentu juga ada rasa bahagia. takperlu didefinisikan, ia sudah merangkum berbagai kata yang ada dalam dada.

Ada pula berbagai pertanyaan serta kekhawatiran lain yang menurut saya wajar terjadi pada semua perempuan yang akan menikah.

Lantas apa yang saya lakukan?
Perbanyak membaca. Perbanyak Mencari ilmu dari buku-buku. Pernikahan butuh banyak ilmu yang komprehensif, dan saya tau, ilmu saya masih cetek banget :'(
Disamping itu, juga lakukan Perbaikan ruhiyah. Perbaiki kualitas ibadah wajib. Tambah kuantitas ibadah sunnah. Kalau bisa azzamkan agar ia setara dengan yang wajib.
Karena sejatinya pernikahan adalah mitsaqan ghalidza, ia adalah perjanjian yg kokoh, dimana saat ikrar itu terucap bahkan sampai mengguncang arsy-Nya.

Ya, perbaiki hubungan kita dengan Allah, agar kita mampu menyempurnakan setengah dien dengan berbekal maknawiyah yang kuat, baik dan tercharge maksimal, agar kita siap menapak kehidupan yang baru, dengan seseorang yang baru. 


#bersyukur
#30harizainabbercerita
#Twoweektogetmarried

Kamis, 02 Maret 2017

Akankah?

2013
Slamet ; disepanjang jalan yang kutapak, turun kabut pekat memikat. Ia memangkas jarak pandang. Katamu Ini hanya permulaan, nanti juga ada saatnya menjemput kenangan yang tertinggal pada pohon takbernama diujung persimpangan.

Sindoro ; babi hutan yang kita sangka beruang, barangkali hal terkonyol yg sempat terlontar. Kita ditertawakan, dan malam tetiba mjd amat panjang karena perburuan sang binatang berkulit hitam. 

Lawu ; ada percakapan sunyi disela pepohonan pinus. Tentang malam, kerlip lampu kota dan sepi yang menemani. Lantas kita tertawa dalam gigil yang menyala

2014
Papandayan ; hembus angin meniupkan gigil di basah jendela tenda. Senyap larut diujung katakata. Setangkai edelweis luruh di dada cakrawala. 

2015
Merbabu ; Padanya aku rindu. Tentang rentang kebersamaan. Jua fajar yang menawarkan ketenangan.

Prau ; perjalanan lima perempuan. Mencari sesuatu yang kelak akan dirindukan. Barangkali bernama ke(te)nangan. 

2016
Ciremai ; sebuah pagi, sepuluh desember. Langit berpendar cahaya. Juga doa doa melangit di semesta. Ada sebentuk lukisan pagi, yang ku namai puisi.

2017
akankah perjalanan dan pendakian ini terhenti? atau ia justru menawarkan teman perjalanan dengan sekeranjang mimpi?


#bersyukur
#30harizainabbercerita
#Threeweektogetmarried

Featured post

Sandal

Akhirnya aku punya sandal.  Kupikir-pikir baru kali ini aku beli sandal semenjak menikah 6,5 tahun lalu.   Setahun di pulau seberang, kemana...