Sesaat setelah dikhitbah, saya mulai dirundung bermacam perasaan, ada rasa bahagia pastinya, ada rasa haru, rasa takut, rasa khawatir dan bermacam rasa lainnya. Tentu porsi rasa bahagia yang jumlahnya berkali lipat dibanding yang lain membuat hari-hari saya menjadi lebih berwarna, namun takjarang pula rasa - rasa lain takmampu saya tutupi keberadaannya.
;
Ada rasa takut, takut belum mampu membahagiakan orangtua, takut takmampu berbagi cinta yang sama dengan mertua, takut takbisa menjadi istri yang sempurna bagi dia.
Ada rasa cemas, tentang rumah dan lingkungan yang akan ditempati, keterampilan mengelola rumah tangga yang belum mumpuni, juga tentang peran dakwah yang akan diambil di perantauan nanti.
Tentu juga ada rasa bahagia. takperlu didefinisikan, ia sudah merangkum berbagai kata yang ada dalam dada.
Ada pula berbagai pertanyaan serta kekhawatiran lain yang menurut saya wajar terjadi pada semua perempuan yang akan menikah.
Lantas apa yang saya lakukan?
Perbanyak membaca. Perbanyak Mencari ilmu dari buku-buku. Pernikahan butuh banyak ilmu yang komprehensif, dan saya tau, ilmu saya masih cetek banget :'(
Disamping itu, juga lakukan Perbaikan ruhiyah. Perbaiki kualitas ibadah wajib. Tambah kuantitas ibadah sunnah. Kalau bisa azzamkan agar ia setara dengan yang wajib.
Karena sejatinya pernikahan adalah mitsaqan ghalidza, ia adalah perjanjian yg kokoh, dimana saat ikrar itu terucap bahkan sampai mengguncang arsy-Nya.
Ya, perbaiki hubungan kita dengan Allah, agar kita mampu menyempurnakan setengah dien dengan berbekal maknawiyah yang kuat, baik dan tercharge maksimal, agar kita siap menapak kehidupan yang baru, dengan seseorang yang baru.
#bersyukur
#30harizainabbercerita
#Twoweektogetmarried
Tidak ada komentar:
Posting Komentar